Antisipasi Leptospirosis
Meningkatkan kewaspadaan jenis penyakit yang muncul bersamaan musim hujan dimaksudkan untuk pencegahan untuk kita semua. Infeksi Leptospirosis yang berasal dari bakteri Leptospira dapat memakan korban dan sudah terjadi di beberapa wilayah Indonesia.
Dikutip dari keterangan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono, mengatakan penyakit leptospirosis telah memakan dua korban jiwa di DKI Jakarta sepanjang 2018 hingga Januari 2019. Penyakit yang disebabkan bakteri dalam urin tikus itu menyebar saat musim hujan.
"Kemenkes sudah membuat edaran kewaspadaan dan mendorong daerah untuk melakukan antisipasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat untuk hal-hal yang harus dilakukan," ujar Anung melalui pesan singkat.
Dalam keterangan yang disampaikan Anung lebih lanjut menjelaskan, Jakarta masuk lima besar berkaitan kasus leptospirosis sebanyak 31 kasus dengan urutan pertama di Jawa Tengah 427 kasus dan meninggal 89 orang, Yogyakarta 186 kasus 16 meninggal, Jawa Timur 128 kasus 10 meninggal dan urutan ke 4 adalah Banten dengan 104 kasus dengan catatan 26 orang meninggal.
Cara Penularan leptospirosis Pada Manusia
Cara penularan bakteri leptospira menginfeksi manusia dan makhluk hidup lainnya sebagian besar terjadi karena kontak secara langsung melalui urine hewan. Beberapa cara penularan Leptospirosis lainnya terjadi saat hewan pengerat seperti tikus yang terinfeksi buang kotoran pada air atau tanah sehingga menyebabkan kontaminasi jika tersentuh makhluk lainnya. Penularan Leptospirosis dari tikus kepada hewan lain dimungkinkan juga dialami anjing, kucing, sapi, babi dan satwa liar, termasuk kelompok hewan yang bisa terinfeksi jika tergigit atau terinfeksi. Selain itu, hal yang mendorong Leptospirosis mudah menular dipengaruhi kondisi daerah yang memiliki curah hujan tinggi dan iklim hangat.
Gejala Leptospirosis Pada Manusia
Antisipasi Leptospirosis dapat dimulai mengenal gejala yang mungkin muncul untuk pencegahan lebih cepat. Variasi gejala yang dialami penderita dimungkinkan berbeda, namun sebagian besar akan merasakan beberapa gangguan kesehatan, seperti deman tinggi, diare, muntah, mata kemerahan, sakit otot yang nyeri, muncul ruam hingga sakit di bagian kepala.
Kemampuan bakteri Leptospira bertahan hidup ketika ada di lingkungan lembab dan hangat bisa beberapa bulan sampai menemukan tempat baru. Cara masuknya bakteri Leptospira ke dalam tubuh melalui luka terbuka, tekstur kulit yang lembut akibat terendam air atau menelan air yang terkontaminasi.
Antisipasi Leptospirosis pada penderita yang mengalami gejala lebih dari satu tanda diatas dan mungkin pernah berada dalam air atau memiliki luka terbuka, disarankan melakukan kunjungan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lengkap.
Cara Efektif Mencegah dan Antisipasi Leptospirosis
Mencegah dan antisipasi lebih waspada agar terhindar Leptospirosis sangat penting untuk diketahui bersama. Anda bisa melakukan beberapa upaya membentengi diri, seperti:
- Tidak membiasakan kontak langsung dengan air yang tidak diketahui kebersihannya, terlebih mempunyai luka terbuka
- Selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar supaya tidak menjadi sarang hewan pengerat seperti tikus
- Membawa desinfektan untuk membersihkan kulit setelah terpapar air di luar rumah
- Menggunakan sarung pelindung dan perlengkapan yang dibutuhkan saat membersihkan urin hewan peliharaan
- Menutup luka yang terbuka dengan pelapis tahan resapan air yang bisa dibeli di apotik
- Menjaga kebersihan tangan sebelum makan
- Memberi vaksinasi sesuai rekomendasi dokter hewan.