![]() |
Ilustrasi vaksin COVID-19. [Shutterstock] |
Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan lebih dari 100 kandidat peneliti dan pengembangan vaksin kini mengembangkan penangkalnya. Disebutkan juga dalam uji klinis tersebut, 8 diantaranya sudah dilakukan pada manusia.
Suchinda Malaivitjitnond, direktur Pusat Penelitian Primata Nasional Thailand yang mengawasi suntikan vaksin Sabtu kepada 13 monyet, mengatakan dia berharap vaksin "Buatan Thailand" akan lebih murah daripada obat Eropa atau Amerika.
Penelitian awal yang sudah dilakukan terhadap tikus dan dinilai berhasil tersebut memasuki fase berikutnya dengan monyet. Memakai teknologi terbaru sejenis mRNA, para peneliti mengadakan kerja sama dengan University of Pennsylvania di AS.
Teknologi mRNA diketahui juga digunakan oleh perusahaan lain untuk mengembangkan vaksin Covid-19, seperti Pfizer dan Moderna yang berbasis di Amerika Serikat dengan hasil awal yang baik dalam uji klinis.
Ketua Pusat Penelitian Vaksin Chula di Universitas Chulalongkorn, Dr, Kiat Ruxrungtham berharap tes yang dilakukan pada kera tersebut sesuai harapan, sehingga ditargetkan bisa dilakukan uji coba berikutnya ke manusia sekitar Okter mendatang. Ia juga menambahkan, negara dengan penghasilan rendah dan menengah, tidak selalu menjadi pembeli tetap seumur hidupnya.
"Impian kami adalah agar negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak harus tetap menjadi pembeli seumur hidup kami."
0 Comments